Selasa, 10 Januari 2012

TULISAN 10



Tema : Generasi Muda dan Kebudayaan bangsa

Kurangnya Kepedulian Generasi Muda Terhadap Kebudayaan Bangsa


Generasi muda Indonesia telah banyak melupakan warisan kebudayaan yang menjadi jati diri bangsa Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, diantaranya adalah karena anggapan-anggapan bahwa kebudayaan Negara lain terlihat lebih eksklusif dibandingkan dengan kebudayaan yang dimiliki bangsa indonesia. Banyak generasi muda indonesia yang mengikuti mode, dan segala hal yang kebarat-baratan untuk mengejar prestige.

Selain hal tersebut, Koordinator IndoWYN (Indonesian world heritage youth network) Lenny Hidayat, Program Specialist Unesco Office, Jakarta, Masanori Nagaoka, dan Wakil Koordinator IndoWYN Hindra Liu, juga menyebutkan bahwa kurangnya informasi-informasi yang disediakan oleh pemerintah mengenai kekayaan yang dimiliki Bangsa Indonesia. Padahal Indonesia memiliki tujuh warisan budaya, tiga di antaranya warisan budaya dunia seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Situs Manusia Purba Sangiran. Walau sudah dikenal luas di dunia, namun masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak paham makna yang terkandung di dalamnya. Selain Borobudur, Prambanan, dan Situs Sangiran, empat warisan dunia lainnya yang ada di Indonesia adalah Pulau Komodo, Hutan Hujan Tropis Sumatera, Taman Nasional Lorenz, dan Taman Nasional Ujung Kulon. Serta 24 warisan budaya dalam daftar tentatif Pemerintah Indonesia untuk diajukan sebagai warisan dunia. Dan juga tidak kalah keindahan-keindahan bawah laut indonesia yang justru menjadi tujuan wisata para turis seperti Raja ampat dan Wakatobi
Namun, masih banyak juga generasi muda yang masih memiliki kepedulian yang besar terhadap kebudayaan Indonesia. Mereka berusaha untuk melestarikan kebudayaan Indonesia dan juga membuat kebudayaan Indonesia menjadi tersohor di mata dunia. Dengan menjadikan batik sebagai pakaian yang modern dan tidak lagi dianggap kuno, itu sudah merupakan salah satu usaha mereka untuk melestarikan kebudayaan indonesia.
  
Memang sudah semestinya sebagai generasi muda Indonesia, kita melestarikan kebudayaan Indonesia dan bangga menjadi warga Negara Indonesia yang memiliki begitu banyak warisan budaya seperti candi, suku bangsa yang beragam, aneka ragam kebudayaan, dan tentunya kekayaan alam yang melimpah. Bentuk rasa bangga kita terhadap kebudayaan Indonesia dapat kita tunjukkan dengan menjaga kelestarian alam dan peninggalan bersejarah di Indonesia. Selain itu, dengan mengadakan berbagai pameran nasional ataupun internasional mengenai kekayaan alam dan kebudayaan Indonesia.







Daftar Pustaka
http://nasional.kompas.com/read/2008/11/26/17323361/generasi.muda.kurang.peduli.budaya.sendiri (diakses pada tanggal 30 desember 2011, pukul 15.00 wib)

TULISAN 9


Homoseksualitas Nurture

Fenomena homoseksualitas di Indonesia merupakan hal yang masih tabu dibicarakan oleh sebagian masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa di tengah-tengah masyarakat kita ini terdapat komunitas menyimpang, yakni komunitas yang sering disebut sebagai komunitas gay dan lesbian. Komunitas ini memang tergolong kaum minoritas mengingat bahwa kaum homoseksualitas sangat menutup diri.
Homoseksual atau homofilia dapat difenisikan sebagai gejala dan prilaku yang ditandai oleh ketertarikan secara emosi dan seks, pada sesorang terhadap orang lain yang sama jenis kelaminnya (Dede Oetomo, 2001) Homofilia atau homoseksualitas terdapat dimana saja dalam kehidupan manusia karena secara biologis-psikologis manusia dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan tindakan seks yang jauh lebih banyak macamnya daripada hanya senggama penis dengan vagina (Dede Oetomo, 2001).

Secara ilmiah, homoseksualitas dapat diartikan sebagai rasa tertarik secara perasaan baik itu kasih sayang atau hubungan emosional dan secara erotik, baik secara predominan mauapun ekslusif terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa hubungan fisik. Homoseksual lebih tepatnya mengacu pada orang, baik laki-laki ataupun perempuan yang memakai orientasi homoseksualnya sebagai kriteria pokok dalam mendefinisikan identitasnya atau lebih dikenal dengan istilah Gay untuk pria dan Lesbi untuk wanita. Adapun dorongan untuk mencintai sesama jenis ini ada secara alami dan terdapat di dalam kebudayaan di seluruh dunia.
  
(George A. Rekers, The Formation of Homosexual Orientation, ditujukan kepada North American Social Science Network Conference, Washington D.C. Februari 26, 1987), mengemukakan bahwa Untuk saat ini kami boleh dengan tegas berkesimpulan bahwa sumber utama bagi penyimpangan tingkah laku seksual dan identitas seksual disebabkan oleh lingkungan dan faktor-faktor penentu perkembangan kondisi psikis orang itu, tetapi kami pun sadar akan adanya kemungkinan teoritis bahwa penyimpangan biologis dapat menjadi potensi yang sangat berbahaya dalam mendukung penyimpangan seksualitas secara tidak langsung.

Menurut saya pribadi homoseksulitas lebih cenderung disebabkan oleh faktor lingkungan bukan berdasarkan keturunan. Seseorang bisa saja mengalami hal tersebut karena pengalaman-pengalaman buruk yang pernah dialaminya. Sehingga dari pengalaman-pengalaman buruk tersebut membuat mereka ingin menentang kodratnya dengan mengubah kepribadiannya.
Para penderita homoseksualitas, bukan saja hanya mengubah kepribadiannya, namun juga mengubah ketertarikan mereka terhadap lawan jenis. Laki-laki menjadi tertarik dengan sesama laki-laki dan perempuan juga menjadi tertarik dengan sesama perempuan. Bahkan terkadang, mereka menginginkan terjadinya hubungan intim antar mereka yang sesama jenis.
Dari semua ini, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kaum homoseksual kebanyakan terlalu menutup dirinya, sehingga sulit untuk berinteraksi atau berhubungan sosial dengan orang lain. Namun, kebanyakan penderita mengalami gangguan kepribadian seperti itu bukan karena faktor keturunan atau gen, tetapi lebih cenderung karena keadaan lingkungan di sekitar mereka.


Daftar Pustaka
Artikel non personal (2009). Takdir? Kebenaran Tentang Homoseksualitas. From http://www.pancarananugerah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=24&Itemid=26. Diakses 2 januari 2010

TULISAN 8


BIOGRAFI


Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.
Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
  
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
  
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam

Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)

Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)


Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981

Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

Referensi :

- http://pengusahamuda.wordpress.com/biografi/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Sadino

 
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/12/biografi-bob-sadino-pengusaha-sukses.html

TULISAN 7



Perbedaan Antara Laki-laki Dengan Perempuan Beserta Alasan Mereka dalam Memilih Teman

Seorang laki-laki lebih gampang mendapatkan teman baru dari pada seorang perempuan. Namun, kebanyakan laki-laki jarang membina pertemanan yang khusus dengan teman laki-lakinya, berbeda dengan perempuan yang selalu mengharapkan hubungan khusus jika sudah merasa sangat dekat dengan teman perempuannya. Teman khusus yang dimaksudkan di atas, yakni hubungan pertemanan yang sangat dekat, dengan saling mendengarkan dan juga menceritakan masalah pribadi mereka masing-masing.

Laki-laki, selalu saja mendapatkan kesan lebih kuat dibandingkan perempuan. Mereka dianggap lebih tegar dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi di dalam kehidupan mereka. Berbeda dengan perempuan, banyak yang mengatakan, perempuan lemah, terlalu sensitive, terlalu pemikir, dan juga terlalu banyak memikirkan hal-hal yang kurang penting. Namun, semua itu merupakan suatu kelebihan dan juga kekurangan yang wajar terjadi pada setiap manusia.

Dari segi fisik, terlihat bahwa laki-laki memang memiliki tubuh yang lebih kekar dari perempuan. Perempuan memiliki lekuk-lekuk pada tubuhnya yang menjadikan mereka terlihat lebih anggun dari seorang laki-laki. Cara mereka berbicara, berjalan, bahkan memperlakukan seseorang dapat menunjukkan perbedaan kepribadian antara seorang laki-laki dan perempuan.

Banyak masalah-masalah yang terjadi pada laki-laki dan perempuan karena perbedaan pribadi yang mereka miliki. Seperti, cara mereka memilih teman,  keinginan untuk berkomitmen, keinginan untuk melakukan seks, kesenangan terhadap sesuatu, hobi, kebiasan yang sering dilakukan dan masih banyak lainnya.

Dalam buku psikologi yang membahas mengenai sumber pikiran dan kepribadian menyebutkan bahwa perbedaan pada perempuan dan laki-laki, berdasarkan hasil penelitian lewat kerja otak mereka yakni, otak perempuan rata-rata memiliki 11%  lebih banyak sel di daerah korteks yang berkaitan dengan pemrosesan informasi auditif. Bahkan, semua perempuan memiliki sel-sel ini lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (Witelson, Glazer & Kigar, 1944). Perbedaan jenis kelamin, ternyata berkaitan dengan lateralis untuk beberapa jenis tugas, khususnya yang melibatkan bahasa, tampaknya pria lebih banyak melibatkan salah satu sisi otak, sementara wanita melibatkan kedua sisinya itulah alasan mengapa kebanyakan perempuan bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.
Karena banyaknya perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan, maka dilakukan sebuah wawancara kepada tiga responden terpilih.

Responden I
Nama : Nb
TTL : Jakarta, 15 agustus 1991
Pekerjaan : Mahasiswa
Karakter : Periang
Umur :18 tahun

Nb berteman dengan siapa saja, tanpa membeda-bedakan status apapun. Ia mempunyai empat orang sahabat perempuan yang sudah sangat dekat sejak dia masih SMP (sekolah menengah pertama). Walaupun ketika SMA (sekolah menengah atas) sekolahnya berbeda-beda, dan banyak menemukan teman-teman baru lagi yang juga dekat, namun tetap baginya sahabatnya adalah empat orang teman SMP-nya. Mereka semua sudah saling menganggap sebagai keluarga antara satu sama. Bagi Nb, mempunyai teman perempuan ataupun laki-laki, keduanya menguntungkan. Namun, kelebihan lain mempunyai teman perempuan, mereka lebih bisa menunjukan perhatiannya sebagai teman dibandingkan laki-laki.

Responden II
Nama : By
TTL : Jakarta, 30 desember 1991
Pekerjaan : Mahasiswa
Karakter : Periang
Umur : 17 tahun

Menurutnya, mempunyai teman atau sahabat perempuan lebih menyenangkan karena dapat mengerti perasaannya ketika dia sedang merasakan kesedihan, marah, ataupun senang. Ia mempunyai seorang sahabat perempuan yang sudah bersahabat dengannya ketika ia duduk di bangku SD (sekolah dasar). Namun, ia bukan merupakan orang yang memilih-milih teman berdasarkan suatu alasan. Ia berteman dengan siapa saja, tetapi ia tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada teman-temannya itu. Jika menyangkut masalah pribadi, ia akan langsung menceritakannya kepada sahabat perempuannya. Ia tidak menyukai pertemanan secara berkelompok atau biasa disebut geng, karena ia senang menjalin pertemanan dengan siapa saja.

Responden III
Nama : Rn
TTL : Jakarta, 12 april 1989
Pekerjaan : Mahasiswa
Karakter : Pendiam
Umur : 20 tahun

Rn senang berteman dengan laki-laki. Karena menurutnya, laki-laki lebih bisa menyimpan rahasia dengan baik daripada seorang wanita. Ia tidak memiliki geng karena ia suka berteman dengan siapa saja. Ia bersahabat dengan seorang laki-laki semenjak ia masih SMA (sekolah menengah atas).


Dari hasil wawancara terhadap 3 orang responden tersebut, dapat disimpulkan bahwa setiap orang mempunyai alasan yang berbeda-beda ketika memutuskan untuk memilih seseorang untuk menjadi sahabatnya. Mereka bertiga tidak menyukai pertemanan secara berkelompok atau yang biasa disebut geng, karena menurut mereka dengan seperti itu terlihat jadi seperti membatasi ruang gerak mereka ataupun orang lain untuk menjalin pertemanan.


Daftar Pustaka
·       Carol Wade & Carol tavris (2007). Psikologi, edisi ke-9. Jakarta : Penerbit Erlangga

TULISAN 6


Dapatkah Meditasi Mengurangi Ketergantungan Obat?

Ketergantungan obat, sering kita dengar di dalam kehidupan sehari-hari. Namun, terkadang kita tidak mengetahui dengan jelas maksud dari ketergantungan obat itu sendiri. Banyak  masyarakat yang mulai menyalahgunakan obat yang kebanyakan dapat  menimbulkan ketergantungan bagi penggunanya.  Penyalahgunaan itu sendiri memiliki arti ketika sebuah obat mulai mengganggu fungsi kerja otak seseorang serta merusak hubungan seseorang dengan orang yang lainnya, penggunaan telah berubah menjadi penyalahgunaan. Ketergantungan itu sendiri dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Penyalahgunaan obat yang mengakibatkan ketergantungan, dapat merusak organ-organ di dalam tubuh kita serta dapat menyerang wilayah otak.

Beberapa jenis obat-obatan yang membuat seseorang mengalami ketergantungan adalah obat psikoaktif seperti tembakau, alkohol, mariyuana, mescaline, opium, kokain, peyote yakni senyawa yang dapat mengubah persepsi, suasana hati, pikiran, ingatan, atau bahkan perilaku seseorang dengan cara mengubah zat-zat biokimia di dalam tubuh kita. Alasan seseorang menggunakan obat-obatan tersebut juga bevariasi ada yang awalnya mengurangi rasa sakit, sebagai hiburan, mengubah kesadaran, rasa tidak nyaman atau bahkan melarikan diri secara psikologis.

Biasanya, sesesorang yang sudah mengalami ketergantungan pada obat-obatan seperti itu, akan mendapatkan penanganan khusus yakni dengan dimasukkan ke dalam panti yang biasa di sebut panti rehabilitasi yang bertujuan untuk memulihkan kembali orang-orang yang mengalami ketergantungan. Namun, metode tersebut jarang sekali berhasil karena di dalam panti rehabilitasi tersebut belum tentu orang-orang yang terkena ketergantungan obat dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan panti. Tapi apakah ada cara lain untuk mengurangi ketergantungan obat atau bahkan menyembuhkan penggunanya? apakah dengan cara meditasi dapat mengurangi atau bahkan menyembuhkan orang-orang ketergantungan obat-obatan?

Masyarakat banyak mengetahui bahwa meditasi dapat bermanfaat untuk menenangkan jiwa dan membuka pikiran kita agar lebih tenang. Belum banyak masyarakat yang mengetahui bahwa meditasi juga dapat menyembuhkan orang yang menyalahgunakan obat dan juga ketergantungan obat-obatan terlarang, namun ternyata ada orang yang kondisinya sedikit membaik, bahkan sembuh total karena meditasi tersebut.

Berdasarkan hasil dari pengakuan seseorang yang pernah menjadi seorang pecandu, menyebutkan bahwa seorang pecandu dapat sembuh total berkat meditasi yang teratur. Namun, tetap dengan dorongan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dorongan dari orang lain merupakan faktor yang sangat penting untuk menumbuhkan minat serta kemauan terhadap seorang pecandu agar ia mau mencoba untuk bermeditasi secara teratur.









Daftar Pustaka
Wade, Carol & Tavris (2007). Psikologi, edisi ke-9. Jakarta : Penerbit Erlangga

TULISAN 5


Kasus Bunuh Diri Terkait dengan Aliran Humanisme dalam Psikologi

Bunuh diri, merupakan suatu pembicaraan yang sudah tidak asing lagi kita dengar sehari-hari.  Banyak sekali kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia. Beberapa contoh kasus bunuh diri di Indonesia dalam kurun waktu 2007 sampai 2009.

Kasus pertama terjadi pada tahun 2007 di Tulungagung, Jawa Tengah. Karena kecemburuan seorang suami bernama Moh Yon (28) kepada istrinya yang bernama Ita Nurohman (26), satu keluarga di desa Ngentrong, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, nekat bunuh diri bersama dengan cara minum racun tikus. Akibat hal tersebut, anak dari pasangan itu Bima Nurohman yang baru berusia 2 tahun meninggal dunia. Sedangkan pasangan suami istri itu sekarat. Lelaki yang memiliki pekerjaan buruh bangunan di Malang ini mengakui telah meminumkan racun pembunuh hewan pengerat itu kedalam mulut anaknya.

Kasus kedua terjadi pada tahun 2008 di Tanggerang. Seseorang bernama Fatinur (50), nekat bunuh diri dengan cara terjun ke Kali Angke akibat perasaan bersalah yang sangat mendalam akibat pernah menabrak seorang pengendara motor hingga pengendara tersebut tewas.

Kasus ketiga terjadi pada tahun 2009 di Bojonegoro. Nasib tragis dialami oleh Saelan (39), karena memikirkan kebutuhan hari raya untuk keluarganya. Ia merasa tidak kuat menghadapi kehidupannya sebagai orang miskin.

Terdapat beberapa aliran utama di dalam psikologi yang dapat mengkaji peristiwa bunuh diri tersebut yakni psikoanalisis, behavioristis, dan humanistis.

Psikoanalisis, yakni teori kepribadian dan metode psikoterapi yang awalnya dikembangkan oleh Sigmund Freud, yang memiliki penekanan pada motivasi di tataran ketidaksadaran dan energi instinctual.

Behavioristis, yakni pendekatan dalam ilmu psikologi yang memiliki penekanan pada perilaku yang dapat diamati dan peran dari lingkungan sebagai penentu perilaku.

Humanistis, menurut Carl Rogers menggaris besarkan pandangan sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen, 1974:33):
1.     Perilaku manusia berpusat pada konsep diri, yaitu persepsi manusia tentang identitas dirinya yang bersifat fleksibel dan berubah-ubah, yang muncul dari suatu medan fenomenal (phenomenal field).
2.     Manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.
3.     Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti oleh pertahanan diri berupa penyempitan dan pengkakuan persepsi dan perilaku penyesuaian serta penggunaan mekanisme pertahanan ego seperti rasionalisasi.
4.     Kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri. Dalam kondisi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta rnemilih jalan menuju pengembangan dan aktualisasi diri (“Konsepsi psikologi, 2007). 
Dari ketiga kasus di atas, menurut saya yang paling berkaitan dengan kasus bunuh diri tersebut adalah aliran humanistis. Karena, sifat manusia yang selalu menginginkan peningkatan dalam kehidupannya, membuat perilaku dan juga persepsi seseorang dapat berubah-ubah.











Daftar Pustaka

Kariso (2007) . Konsepsi psikologi tentang manusia. From http://karisc.multiply.com/ journal/item/202/Konsepsi_Psikologi_tentang_Manusia, diakses 2 Januari 2010
Solichan Arif  (2007) . Satu Keluarga Bunuh Diri Minum Racun Tikus. http://news.okezone.com/read/2007/11/22/1/62969/satu-keluarga-bunuh-diri-minum-racun-tikus, diakses 2 januari 2010
Carolina (2008). Fatinur Bunuh Diri karena Merasa Bersalah Nabrak Mati Orang. http://news.okezone.com/read/2008/02/08/1/81892/1/fatinur-bunuh-diri-karena-merasa-bersalah-nabrak-mati-orang, diakses 2 januari 2010
Nanang Fahrudin (2009). Bunuh Diri karena Stres Mikir Dana untuk Lebaran. From  http://news.okezone.com/read/2009/09/10/1/256462/bunuh-diri-karena-stres-mikir-dana-untuk-lebaran, diakses 2 januari 2010